Kamis, 03 April 2014
Siswa Peduli Orangutan
Ketapang, KBK, 04/04/2014
Tidak kurang 50 siswa dari SDN 04 Matan Hilir Selatan, Ketapang, pada hari kamis, 3 April 2014 ikut berpartisipasi dalam kegiatan penyemaian bibit tanaman hutan pohon pakan orangutan di Pematang Gadung. Kegiatan ini merupakan implementasi dari program bersama Multi Stakeholder Forum (MSF) atau yang selama ini dikenal dengan "Sekretariat Bersama", bersama USAID-IFACS.
Kegiatan penyemaian ini merupakan tindak lanjut dari rencana aksi Landscape Conservation Plan (LCP) untuk Pematang Gadung yang memiliki kawasan hutan gambut dengan nilai konservasi tinggi (NKT). Tujuan utamanya adalah pengayaan jenis tumbuhan yang memiliki manfaat ekologis bagi kawasan tersebut.
Jenis yang menjadi prioritas adalah Diospyros sp.(kayu malam) dan Ganua motleyana (Nyatuh ketiau). Karena jenis ini merupakan sumber pakan bagi primata dan binatang lainnya.
"Kegiatan dengan mengikut-sertakan siswa SD ini bertujuan agar aksi konservasi dikenal sejak dini, hingga memberikan pengalaman belajar yang bermakna pada peserta didik sebagai generasi penerus!" kata Abdurahman Al Qadrie, ketua KBK.
Jumlah target bibit sendiri adalah 25.000 pohon. Yang rencana akan ditanam pada oktober mendatang.
Sabtu, 15 Maret 2014
Rekod Baru Cekakak belukar
Ketapang, 15 Maret 2014
Kebanyakan burung bermigrasi yang datang dan melalui Ketapang setiap tahunnya memiliki pola migrasi yang jelas dengan akurasi waktu dan tempat yang hampir bisa dipastikan. Hal tersebut tentu dipengaruhi berbagai faktor antara lain pergantian musim, angin, cuaca, ketersediaan pakan, dan habitat.
"Berbeda dengan jenis burung yang satu ini, belum banyak informasi yang dapat kita kumpulkan tentang keberadaannya!" kata Erik Sulidra, ketua BSYOK.
Burung yang dimaksud adalah jenis dari Cekakak (family Halcyonidae), yaitu Cekakak belukar atau dalam nama Inggrisnya White-throated Kingfisher (Halcyon smyrnensis). Burung tersebut baru beberapa kali terlihat di wilayah kabupaten Ketapang. Jenis ini tersebar di Eurasia, mulai dari Bulgaria, Turki, Asia barat, India hingga ke Filipina.
"Pertama kali terlihat pada akhir november 2008 di Pematang Gadung, saat itu kami melakukan pengamatan bersama Bas Van Balen, selanjutnya, di awal 2013, terlihat di Tuan-tuan, awal 2014 terlihat lagi di Pematang Gadung masing-masing hanya satu individu. Dan di pertengahan Februari ini saya melihat 3 individu di sekitar Danau Buntar, Kecamatan Kendawangan - kecamatan paling selatan di Ketapang!" jelas Abdurahman Al Qadrie, dari KBK.
Temuan ini masih menimbulkan spekulasi tentang apakah burung ini penetap atau migran? Menurut Abdurahman sendiri, kemungkinan migran, karena tidak ditemui pada bulan-bulan yang lain. Umumnya burung air bermigrasi antara akhir agustus hingga april. Jenis ini memang sedikit sekali jumlahnya hingga tidak menutup kemungkinan luput dari pengamatan.
Jenis cekakak yang bersaudara dekat dengan Cekakak endemik Jawa ini (Halcyon cyaniventris), merupakan jenis yang dilindungi walau statusnya masih dinyatakan beresiko rendah (LC). Perlindungan tersebut diatur menurut Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999. Namun demikian, keterancaman akibat perubahan pungsi lahan basah membuat banyak dari jenis burung air mengalami kepunahan secara perlahan-lahan.
Kamis, 23 Januari 2014
Rekod Baru untuk Black-headed Gull (Chroicocephalus ridibundus)
Black-headed Gull, Juvenile
Ketapang, 23/01/2014, KBK
Ketapang Biodiversity Keeping (KBK) bersama Birding Society Of Ketapang (BSYOK) melakukan pengamatan untuk sekedar berpartisipasi dalam even Asian Waterbird Census (AWC) 2014, yang dimulai sejak 2 Januari hingga 26 Januari 2014 ini. Beberapa jenis burung air yang umum dijumpai setiap tahunnya selalu tiba kembali ke kawasan lahan basah di Ketapang. Kebanyakan jenis burung air ini adalah jenis burung bermigrasi.
"Kita hanya berpartisipasi saja, walau data pengamatan kita hanya untuk komunitas, jadi tidak di-share kemana pun!" kata Erik dari BSYOK.
Dalam beberapa minggu di awal 2014 ini, hal yang paling menarik adalah saat para pengamat burung menemukan Camar kepala hitam yang nama Inggrisnya Black-headed Gull (Chroicocephalus ridibundus) atau synonim nama ilmiahnya Larus ridibundus, tepatnya pada tanggal 22 Januari 2014.
Jenis ini memang umum di tempat lain di belahan dunia ini, tetapi jarang dijumpai di perairan laut Indonesia. Terutama menjadi catatan baru bagi Kalimantan.
Burung ini berbiak di Eropa dan Asia, juga bagian timur Kanada, pada musim dingin bermigrasi ke Amerika bagian utara, serta peraiaran di laut Asia.
"Penemuan jenis ini menambah catatan kami, beberapa jenis burung yang tidak atau belum pernah teramati selama ini, ternyata ada di Ketapang!" kata Jephi, dari BSYOK.
"Ini merupakan indikator keseimbangan ekosistem yang relatif masih terjaga, semakin banyak jenis burung yang dijumpai menandakan ketersedian pakan bagi burung-burung tersebut masih cukup!" tambah Andhy PS, yang akrab dipanggil Alek.
"Sebenarnya pendataan jenis merupakan target kita untuk mengetahui jumlah jenis burung yang ada di Ketapang, dengan adanya jenis yang menjadi catatan baru menyadarkan kita, betapa kayanya flora dan fauna yang ada di Ketapang yang belum diteliti sebelumnya. Dan kewajiban kitalah untuk menjaga agar mereka tetap lestari!" tambah Abdurahman Al Qadrie, Ketua KBK.
Foto-foto :
Jumat, 17 Januari 2014
Penyelamatan Anak Orangutan
Pematang Gadung, 17/01/2014, KBK
Lembaga Kelola Hutan Desa Pematang Gadung, hari ini membawa penyerahan satu individu anak orangutan yang berumur diperkirakan paling tinggi 2 tahun untuk dibawa ke Kantor BKSDA Seksi I Kalimantan Barat di Ketapang.
"Masyarakat di sekitar sangat peduli pada orangutan ini, sehingga mendesak kami untuk mengecek kebenaran informasi keberadaan orangutan ini. Ini berdasarkan seringnya masyarakat memberikan informasi untuk segera menyelamatkan orangutan tersebut"! Kata Rizal, anggota Lembaga Kelola Hutan Desa Pematang Gadung.
Kejadian ini berlangsung saat warga Desa Pematang Gadung mendapat informasi tentang keberadaan pemeliharaan anak orangutan tersebut sekitar 5 bulan lalu, karena lokasinya sulit diakses, untuk itu dari Pihak BKSDA meminta kepada Lembaga Kelola Hutan Desa untuk memastikan keberadaan kebenaran informasi itu.
Pada tanggal 15 Januari 2014, 4 orang dari Lembaga Kelola Hutan Desa berangkat menuju Lokasi pertambangan, dan paginya pada tanggal 16Januari 2014 mereka baru tiba di lokasi pertambangan illegal tersebut. Sekitar pukul 8 malam, setelah menggumpulkan semua informasi, Lembaga Kelola Hutan Desa Pematang Gadung baru bisa menemui pemilinya dan diserahi orangutan tersebut.
Melalui telfon, Rizal, dari Lembaga Kelola Hutan Desa menghubungi orang BKSDA Ketapang untuk memberitakan kebenaran informasi keberadaan orangutan. Dengan berbagai pertimbangan, termasuk sulitnya akses ke lokasi, Lembaga Kelola Hutan Desa Pematang Gadung kemudian membawa anak orangutan tersebut ke Kantor BKSDA Ketapang, dan baru tiba sekitar pukul 16.00 hari ini.
Orangutan tersebut rencananya secepatnya akan diserahkan ke Pusat Rehabilitasi orangutan di Sungai Awan Ketapang.
"Kerjasama dengan masyarakat dan dukungan mereka terhadap kepedulian pada orangutan sangat berarti bagi perlindungan makhluk yang dilindungi ini!" Kata Wahyu Saputra, anggota Lembaga Kelola Hutan Desa Pematang Gadung.
Rabu, 08 Januari 2014
Tyto longimembris, Rekod Baru Kalimantan
Pematang Gadung, 08/01/2014, KBK
Eastern Grass Owl atau dikenal juga dengan Australian Grass Owl yang nama ilmiahnya Tyto longimembris ini merupakan burung yang sangat menarik bagi para pengamat burung (twitcher-red) di Ketapang. Pasalnya, burung jenis ini merupakan catatan baru bagi Pulau Kalimantan. Burung dari keluarga Tytonidae ini dikenal sebelumnya tersebar di kawasan Asia tenggara, Australasia dan Pasifik barat.
"Sebenarnya burung ini merupakan jenis penetap yang sudah lama, sejak dulu sudah ada dalam cerita-cerita lokal dan sering dijumpai dengan nama lokal Lang Ketupik!" kata Abdurahman Al Qadrie, Ketua KBK. Memang terakhir saya lihat di Pematang Gadung tahun 2009, dan sangat beruntung hari ini kita melihat lagi, tambahnya.
Menurut Abduirahman, pada siang hari burung ini sangat jinak, karena jenis ini termasuk burung pemangsa yang aktif di malam hari (nocturnal). Merupakan pemangsa tikus yang hebat, hingga kelestarian jenis ini sangat menguntungkan pertanian. Mendiami tempat terbuka, seperti lahan pertanian yang banyak ditumbuhi rumput, lebih banyak menghabiskan waktu di permukaan tanah, jarang sekali terlihat terbang.
Beberapa pengamat burung lain yang mendapat informasi terlihatnya burung ini langsung saja menyempatkan diri untuk mengabadikan fotonya. Sebut saja Erik, dari Sukadana langsung menuju ke lokasi, dalam jarak tempuh lebih dari 80 km.
"Tentu saja saya sangat beruntung, setelah beberapa tahun mengamati burung, baru kali ini bisa melihat langsung!" katanya penuh semangat.
"Ini pengalaman yang sangat menarik, karena tidak semua orang dapat kesempatan melihatnya!" kata Alipius Edy.,
Karena jarang terlihat, hingga jenis ini menjadi semacam cerita saja yang berkembang di masyarakat, mengenal namanya tanpa pernah melihat bentuk aslinya. Mereka percaya kalau burung ini (Lang Ketupik) mengepak-ngepakkan sayapnya hingga mengeluarkan suara seperti tabuhan gendang, ada hantu yang menari di sekitarnya.
"Tentu saja itu mitos!" kata Abdurahman. Namun itu kearifan lokal yang perlu disikapi bijaksana, karena kepercayaan seperti itu ikut menjadi media pelestarian jenis ini, tambahnya.
Selasa, 12 November 2013
UPAYA PELESTARIAN TERUMBU KARANG DI KETAPANG
Montipora sp, merupakan jenis karang yang umum terdapat disekitar Pulau Sawi
selain karang yang berbentuk otak dari keluarga Faviidae (Photo by: Abdurahman Al Qadrie)
Ketapang, 12/11/2013, KBK
Terumbu Karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan jenis tumbuhan. Koloni karang dibentuk oleh ribuan hewan kecil (Polip). Dalam kebanyakan spesies, satu individu polip karang berkembang menjadi banyak individu yang disebut koloni. Hewan ini memiliki bentuk unik dan warna beraneka rupa. Terumbu karang merupakan habitat bagi spesies tumbuhan laut, hewan laut, dan mikroorganisme.
Keberadaan terumbu karang menjadi sesuatu yang sangat penting bagi ekosistem laut. Selain menjadi penahan abrasi akibat gelombang laut sebelum menyapu pesisir, terumbu karang juga merupakan habitat yang sangat penting sebagai rumah ikan. Selain itu, keunikan terumbu karang menjadi keindahan tersendiri dan bermanfaat sebagai tujuan wisata atau lokasi olahraga selam, dan tentunya sebagai tempat penelitian.
Kabupaten Ketapang yang memiliki lebih dari 200 km garis pantai, dan 41 pulau kecil memiliki potensi yang cukup baik bagi keberadaan terumbu karang. "Inilah yang kemudian menginspirasi para pegiat lingkungan yang tergabung dalam komunitas "Ketapang Biodiversity Keeping" (KBK), yang dulunya lebih dikenal sebagai Kawan Burung Ketapang untuk berkontribusi dalam upaya pelestarian terumbu karang di wilayah laut Kabupaten Ketapang!" kata Abdurahman Al Qadrie, Ketua KBK.
Pemerintah Kabupaten Ketapang, dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ketapang (DKP), melalui Kabid Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K), sangat menaruh perhatian yang besar terhadap keberadaan dan kelestarian terumbu karang. Hal ini disampaikan Kepala Bidang KP3K, Ir. Zamzani pada saat penulis berkunjung ke kantornya di Jalan Jendral Sudirman, Ketapang (12/11/2013). Menurut beliau, tindakan nyata yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini adalah mengadakan kajian potensi bawah air laut. Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk memetakan lokasi keberadaan terumbu karang, tingkat keterancaman, dan langkah-langkah yang harus dilakukan kedepannya.
"Prioritas utama kita adalah pulau-pulau kecil yang berpenghuni, karena terumbu karang akan mudah rentan terhadap kegiatan manusia!" tambahnya. Terumbu karang di sektar Pulau Bawal merupakan prioritas utama, mengingat di pulau ini terdapat aktivitas yang cukup besar dibanding Pulau Cempedak dan Pulau Sawi.
"Sebagai rumah ikan yang menyediakan perlindungan dan sumber makanan bagi ikan, sudah barang tentu terumbu karang menjadi pendukung utama perkembangan populasi ikan di sekitarnya. Hal ini tentu juga menjadi penopang sumber pendapatan bagi nelayan laut. Semestinya lah kita harus menjaga dan melestarikan terumbu karang!" kata Junaidi, SP, anggota DPRD Kabupaten Ketapang yang menyempatkan diri melihat dari dekat kehidupan nelayan di Pulau Sawi dan Potensi terumbu karangnya. "Dan Pemerintah telah berupaya membantu masyarakat nelayan laut yang tidak memiliki terumbu karang di sekitar wilayah laut tangkapan mereka, yaitu dengan membuat rumpun-rumpun tempat ikan berlindung. Setidaknya kita telah membuat 2 rumpun yang berukuran besar atau yang diistilahkan dengan "Fish Apartment" yaitu di wilayah laut Pulau Cempedak dan wilayah laut Pagarmentimun, selain rumpun-rumpun kecil lainnya!" tambahnya.
"Harapan kita adalah, bagaimana semua pihak dapat menyadari pentingnya keberadaan terumbu karang bagi kehidupan bawah laut dan manusia, kemudian serius dalam melakukan tindakan penjagaan dan pelestariannya!" tambah Abdurahman Al Qadrie.
Beberapa aktivitas manusia yang dapat
merusak terumbu karang yang dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Terumbu_karang, adalah sebagai
berikut:
·
membuang sampah ke laut dan pantai yang
dapat mencemari
air laut,
· membawa
pulang ataupun menyentuh terumbu karang saat menyelam, satu sentuhan saja dapat
membunuh terumbu karang,
· pemborosan
air, semakin banyak air yang digunakan maka semakin banyak pula limbah air
yang dihasilkan dan dibuang ke laut,
· penggunaan
pupuk dan pestisida buatan, seberapapun jauh letak pertanian tersebut dari laut
residu kimia dari pupuk dan pestisida buatan pada akhinya akan terbuang ke laut
juga,
· Membuang jangkar
pada pesisir pantai secara tidak sengaja akan merusak terumbu karang yang
berada di bawahnya,
·
terdapatnya predator terumbu
karang, seperti sejenis siput drupella,
·
penambangan,
·
pembangunan permukiman,
·
reklamasi
pantai,
·
polusi,
· penangkapan
ikan dengan cara yang salah, seperti pemakaian bom ikan.
Minggu, 03 November 2013
Migrasi Elang Di Ketapang
Ketapang, 4/11/2013, KBK
Arus migrasi burung pemangsa (Raptor Migrant) dari jenis elang, masih sangat sedikit informasinya di Ketapang, Kalimantan Barat. Pola pergerakan burung pemangsa yang masuk menuju Kalimantan yang melewati Ketapang diperkirakan dari Sumatera-Bangka Belitung- Karimata- Kalimantan, atau juga Sumatera-Bangka Belitung- Pulau Bawal /Pulau Sawi- Kalimantan.
Untuk memastikan kembalinya jalur ini, pada minggu 27 Oktober 2013, Komunitas pegiat Konservasi di Ketapang, KBK dan BSYOK melakukan pengamatan bersama di Pulau Sawi.
"Tahun lalu, tepatnya 4 november 2012, kita melihat 15 individu Japanese Sparrow Hawk (Accipiter gularis) dan 5 individu Crested Honey Buzard (Pernis ptilorhynchus), dan di tahun ini (27 Oktober 2013) kita hanya melihat 35 individu Japanese
Sparrow Hawk (Accipiter gularis) tanpa jenis burung pemangsa lainnya!" kata Abdurahman Al Qadrie, Ketua KBK (Ketapang Biodiversity Keeping) yang dulu lebih dikenal dengan nama Kawan Burung Ketapang.
"Ini menunujukan bahwa pola migrasi mereka belum terganggu!" kata Alek, sapaan akrab Andhy Priyo Sayogo dari BSYOK (Birding Society Of Ketapang) sebuah komunitas yang fokus pada pengamatan burung dan upaya konservasi habitat di Ketapang.
"Seperti yang kita ketahui, migrasi burung dikarenakan perubahan musim yang terjadi di tempat asalnya, dan terbatasnya sumber makanan. Mereka mengembara mencari suhu yang lebih hangat dan tempat yang menyediakan banyak sumber makanan. Ini menjadi pola penyeimbang ekosistem yang baik secara alami di kawasan para pengembara itu menghabiskan musim dingin (wintering). Kalimantan merupakan satu dari sekian banyak tempat wintering bagi burung pemangsa pengembara ini. Di Ketapang, jenis burung pemangsa yang selalu berkunjung setiap tahunnya dan mudah dilihat adalah Peregrine Falcon (Falco peregrinus), Japanese Sparrowhawk (Accipiter gularis), Crested Honey Buzard (Pernis ptilorhynchus), dan Osprey (Pandion haliaetus)!" kata Tamim dari BSYOK .
"Selain mengamati Elang migrasi, kami juga dapat melihat beberapa jenis burung migrasi lain, diantaranya Blue-tailed Bee-eater (Merops philippinus) dan Asian Brown Flycatcher (Muscicapa dauurica)!" kata Erik dari BSYOK .
Pulau sawi yang menjadi jalur masuk burung pemangsa bermigrasi, menjadi tempat yang menarik sebagai tempat pengamatan burung, disamping juga pemandangan lautnya yang indah, hingga bisa melakukan aktivitas menyelam menyaksikan keindahan dunia bawah air yang mengasyikkan.
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)
-Larus+ridibundus.jpg)

-Larus+ridibundus+juvenile.jpg)

